Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

leit að lífi

Blog EntryJun 27, '11 9:50 AM
for everyone

Dua jarum rajut diatas meja

Perutku terlilit benang

Kiamatlah hari ini, adakah besok selasa?

Mobilmu melaju kencang

Aku mengintipmu dari balik jendela

 

Teleponku rusak

Bel pintu berdering berulang kali

Hatiku rusak

Aku tak mau membuka pintu lagi

 

zsa zsa zsu

itukah kupu-kupu?

itukah kamu?

itukah angsa untukku ?

 

zsa zsa zsu

aku kupu-kupu

aku kamu

 

Dua jarum rajut diatas meja

Bel pintu berdering berulang kali

itukah kamu?

 

Solo, 27 Juni 2011


Blog EntryAug 23, '10 5:26 AM
for everyone
Peron, sebuah tempat  transit penumpang kereta api, ada berbagai macam aktifitas di peron, energi haru, airmata,canda tawa, lamunan liar semua berputar di peron. 120 menit saya di peron stasiun lempuyangan, Yogyakarta,  menulis di buku catatan harian tentang perasaaan-perasaan, degup jantung yang melahap pikiran, mual.


Mata kereta
Perang mata-mata
diantara gegap kaca kereta
lalu aku menekukmu
menjadi mata-mata

Pulang (I)
Suara mesin, melahapku
Peron, tempat tunggu sayu
Gadis gaun hitam-hitam , layu
Seseorang menerjangnya dengan tanya besar
"Apakah kamu akan ke pemakaman?"


Sesudahnya, rel sepi, kelam

Pulang (II)
Kerikil diinjak setiap hari
itu kuasa kereta api
Tak mustahil dinjak pikiran sepi
itu kuasa pikiran berapi


Aku mengigil
tidak setegar kerikil 


Rel surga 
Bayangmu terbang 
kepulan asap kereta
Membawa tubuh melayang
Kita mau kemana ?


Ke surga, 


mari terbang, melayang..


ketok-ketok pintu gerbang !

Lalu lalang 
Yang ada lalu lalang, kereta api
melahap karma terbang ke udara
berulang kali kau bertanya, kamu mau kemana ?
Handphone berdering
aku mematikanmu
berulang kali, berulang kali, mati
Kau disana, bayangmu di ujung kereta
menerjang detik, semu
layu
kaku


Pisau (I)
Kamera menangkapku
dari kejauhan
Aku tulis dengan geram
Aku ambil pisauku, menusukmu 
sampai nafasmu habis
terkikis !
Lalu, aku lempar kameramu ke surga sana 
habis !
Aku terbahak,
duduk di kursu tunggu,
peron lucu
nerakaku!


Pisau (II)
Menunjuk hampir 12
Aku dilahap waktu
2 jam lekas
tak ada yang berubah
pikiran ini menerjang
ingin meracunimu
deritamu
lalu pelan-pelan
melahapmu, menuju
kematianmu


Perjalanan kereta 
Anjing-anjing berlalu membawa mataku
menuju pemakaman, dukaku ?
Tak ada, 
Selepasnya lolongannya menerkamku
Seperti ?
tak selesai, tak selesai
tak selesai, ketakukan adalah ketakutan
jangan pendam, jangan
redam, jangan
jangan


Stasiun lempuyangan,Yogyakarta
19 agustus 2010

Blog EntryMar 1, '10 3:02 AM
for everyone
Rapal sebelas ,

Orang-orang mulai berdatangan, mendekati pagar berwarna biru, disitu ada pintu , menuju : PEMAKAMAN.

Sebuah rumah di pinggiran solo, 3 november 2009




Aku menemuimu kembali dalam malam di ruang utama keluarga, aku menemuimu, tubuhmu melebur dalam gelap, tubuh tubuh ini benar-benar entah.Aku mencium berulang kali, liontin kalung kepala rusa yang tertinggal di laci kayu penuh debu. Tangan-tangan ini mengendap-ngendap mencium setiap lekuk aromamu, angin memburu , aku redup. Menyentuh gelap, lahap . Aku tidak akan membersihkan resapan tumpahan kopi di meja kayu itu , lalu. 

lelap, 1 Maret 2010

Blog EntryMar 1, '10 3:01 AM
for everyone
Duduk mendekap, tubuhku bau tubuhku, resap-resap di dalam, aku berdoa berkali-kali. Mereka menuding nuding dengan kepalan. Tubuh merah tak cerah, katanya. Peduli apa aku, aku duduk diam di belakang rumah, merapal tubuhku sendiri. Berdoa lelap dalam tubuh merah , setelah perjamuan asap dapur ibuku.

Blog EntryMar 1, '10 2:02 AM
for everyone
Kemudian dia menjadi abu, aku mengkhawatirkan segala macam pertanda yang mampir dalam hariku. 
Di jalan-jalan meluap tentang kamu. Sesuatu itu bergelimang dalam dunia luap. Siapa yang hendak menerkam? aku merupa, kamu merupa. Rupa rupa itu berada dalam keengganan yang luar biasa. Jalan-jalan masih sama, pikiran-pikiran menjadi entah sama. Lalu genggaman yang rekat meluap, apakah ini menjadi pertanda?
Tentang dendam di belakang rumah, aku memperbincangkan denganmu di sudut rumah. Kamu enggan, aku menatap mata-mata. Kedua yang aku hirup adalah tentang asap-asap tembakan yang meluncur d iudara. Kepala berserakan didepan pintu, aku enggan membuka. Dunia penuh tembakan, aku melaluinya dengan gertakan. Semuanya indah, kata-kata penyemangat atau apalah inspirasi berjejalan di kepala. Ah, akhhirnya hanya menjadi sampah pikiran. 
Analisa analisa yang runyam , melambung diudara, menghirup asap-asap tembakan seperti aku menjadi dendam. Siapa yang melaluinya? Dengan jalan-jalan yang luap , aku tidak tahu apakah kamu memperbincangkan tentang dendang yang mematikan . Oh iya, d isudut jalan rumah yang sering kita lalui itu berupa menjadi runyam.Jalan-jalan menjadi dinding yang begitu terbaca tanda-tanda. Ah siapa yang entah?
Kamu menjadi bayangku, di sepertiga malam aku meramu semacam rumus-rumus tubuhmu. Apakah kita melaluinya dengan gertakan? aku mencium asap-asap dimana-mana, mereka berteriak-teriak menawarkanku tempat yang indah. apakah itu surga ? lagi -lagi pikiran ini menjadi pergolakan, apakah aku harus mengucapkan ini produk? Gumam yang panjang melewati jalan-jalan, dan aku melihat ribuan entah mengelilingiku, dia membawaku ke tempat indah.




Ah, ternyata hanya menjadi sampah.

Blog EntryMar 1, '10 1:59 AM
for everyone
Merah namanya aku bertengkar dengan ibuku mengenai pembalut yang cocok untukku, aku kemudian menggeliat menjadi semacam serigala di supermarket, menjadi seorang egois memilih pembalut dengan merek tertentu memasukkan dalam keranjang belanja ibu. Ibu menggerutu, gigi giginya seperti mengetuk ngetuk hatiku, risih aku mendengarnya. Aku pulang dengan pembalut kesukaanku, setelah itu perdebatan dimulai tentang bagaimanakah harus melenyapkan pembalut merah di menstruasi bulan pertamaku. Ibu berkata, aku harus menguburnya kedalam tanah, seperti orang mati. 

Blog EntryFeb 20, '10 8:40 PM
for everyone
Karena dua merupakan perpaduan yang membuat tubuhku menjadi abu, aku berjalan-jalan di pagi api. Lalu tubuh tubuh riuh mengendap jalan-jalan yang lalu. Ada apa dengan sesuatu itu? Rupanya aku tidak bermimpi,Aku mengintip pagi api yang membuat tubuhku limbung. Siapakah wajah-wajah di belakang?
Tentang ketuhanan yang dibicarakan ibu ibu di pasar, pagi api meredam kemarahanku. Bagaimana tidak? lalu aku memukul seribu tanya, apakah aku benar-benar terlihat di pagi ini?
Senyum senyum hambar mengumbar, aku tidak memperdulikan lagi apa itu palsu atau tidak. Sesak meresap dalam kesederhanaan. Semacam aku menghibur aku sendiri. Oh rupanya, wajah-wajah menggeliat , aku lekat. Siapa yang memainkan semua ini ? Aku resap, dentang berulang kali, aku lusuh di pagi lusuh. Tidak akan melupakan apa-apa, berjalan begitu adanya. Dadaku sesak, apa yang harus diungkapkan lagi. Semua melaluiku dalam tubuh tubuh pagi api. Di redup sinar wajahmu, aku berhenti di rel panjang, melekat ketidakhadiranmu. Aku terlelap dalam, perjalanan panjang, dalam wajahmu melekat.

Blog EntryFeb 20, '10 8:38 PM
for everyone
aku limbung !

Blog EntryFeb 20, '10 5:59 AM
for everyone
Aku membungkam, di suatu sore jari jariku membuka, aku menunduk tapi tak tahu harus bagaimana. Ibu bilang itu berdoa. Kemudian semua asa tergeletak dalam atap-atap, yang aku lakukan melirik ibu yang menunduk , merapalkan beberapa yang entah. Sore itu kalut. Dan dentang pun mengaum dalam kelam .

Aku bernomor 9, kata ibu usiaku 9. Entah apakah ini keputusasaan yang aku ungkapkan, yang aku tahu aku mengeluarkan apa yang kurasakan. Di usia 9 tahun ketika aku masih rajin minum susu kaleng, aku mampu membuat ibu menggeleng. 

Bibirku dingin, aku merasuk ke ibu, mendekat ke tubuhnya. Aku bilang ke ibu : "ibu, aku mau ganti agama. aku susah harus menghapal ini itu".

Ibu meresap, tubuhku dan tubuh ibuku merekat dekat. Aku tahu, resapan basah itu dari ibu. Ibu menggeleng, membisik ke telingaku : "jangan , jangan sekarang, nak."

waktu itu aku berusia 9 tahun resah, soreku pecah.

Blog EntryFeb 13, '10 6:42 AM
for everyone
Di hari ketigabelas, aku menerima pesan dari seorang lelaki bernama gabriel, memuncak arupa dalam kesadaran senja. Aku membaca gabriel, gabriel membaca aku. 

Sebuah pesan dari gabriel "Ketika Mimpiku Berada di Kiri" :

Tak banyak hal yang bisa ku ingat ketika mataku terpejam. Tak banyak memori yang ku ingat terhadap mimpi-mimpiku. Lain ketika hari menjelang 11. Ketika tidurku lebih larut. Mataku terpejam. Aku berada dalam sebuah lorong. Gelap. Terkawal polisi berkepala banteng. Suara jeritan menggema dalam lorong itu. Riuh ricuh tapi arupa. Tak ada yg bisa kulihat. Semuanya dalam keadaan superposisi dan aku hanya bisa menarik kemungkinan. Aku menuju sebuah ruang dengan cahaya redup. Ku yakini itu adalah sel penjara. Tuan-tuan polisi berkepala banteng mendorongku masuk ke dalamnya. Aku terjatuh. Darah di bibirku. Aku tak tahu salahku apa. Sejenak aku terbaring di lantai. Menyadari rasa sakit di atas debu.
Ku lihat di pojok ruangan sesosok manusia terdiam. Pakaiannya hitam-hitam. Sesaat aku tak bisa melihat siapakah ia. Ketika lampu ruang sedikit bergoyang,beradu dengan gelap,ku dapat melihat sosoknya..Aku kenal dia. Tria Nin. Aku memandanginya. Dia terdiam penuh tenang tanpa rasa takut. Meditasi. Sejenak aku merasa berputar-putar di tengah ruangan. Aku merasa takut. Aku tak tahu apa yang akan terjadi. Aku tak tahu mengapa ku dipenjara. Aku kalut. Pikiranku serasa remuk. Sejenak ku pandangi lagi Tria Nin yang bermeditasi. Tenang. Ku ikuti dia.. Aku mencoba untuk bermeditasi. Sejenak ku dengar mantra dari mulutnya. Tapi memoriku tak sanggup mengingat mantra itu. Ku ikuti meditasinya. Dia berada di kiriku. Bersama mimpiku terhadap pembebasan. Hening. Tanpa kata. Aku hilang. Aku hilang. Hampa. Manifestasi runtuh. Semua menjadi arupa. Tak ada lagi yang bisa ku ingat. dan aku terbangun. di hari kesebelas..

gabriel, 11 Februari 2010

Blog EntryFeb 13, '10 6:34 AM
for everyone
satu jam yang lalu, tiba di vihara ini begitu sepi, nyenyat! hujan begitu deras, petir datang menyapa, aku merinding sepi adanya disini. lalu aku duduk saja di kursi kayu tua, sambil membaca alice in wonderland kesukaanku. hujan masih begitu deras. setengah jam kemudian, datanglah sesosok wajah senja, dia menghampiriku, duduk disampingku, menyalakan rokok , asapnya terbang, kesana. Tiba-tiba lelaki dengan mata sayu, bertanya kepadaku : kau beragama apa? aku menjawab : bagaimana ceritanya anda bisa bertanya begitu ?

lelaki itu menghisap rokok ,kerap. dia menjulurkan sebungkus kepadaku, perbincangan selanjutnya tidak ada,asap terbang kesana (surga, pikirku). Lalu hanya ada perbincangan antara asap asap, kami terdiam, kemudian masuk ke ruangan meditasi, pikiran begitu riuh, begitu.

Blog EntryFeb 12, '10 12:56 AM
for everyone
Ilalang panjang didekat rumah, membuat kakiku berjungkit. Ibu sibuk di dapur lusuh, setiap kali ibu berkaca di lemari makan pecahan, pisau bau anyir tergeletak di dekat api menyala. Aku bermain ilalang di belakang rumah. Dulu aku memulainya dengan lingkaran kecil yang aku ciptakan di belakang rumah, aku masuk ke lingkaran itu. duduk menunduk, merasa aroma dapur ibu. leher resap dengan gangguan aroma , aku berjingkat-jingkat sendiri. Hal pertama yang aku genggam adalah buku harian, itu adalah kitab suci yang aku bawa kemana-mana. aku bisa menceritakan tentang dunia yang aku temui dalam gambar-gambar dari sekeliling rumah. Suatu pagi, aku bangun demam melihat wajah yesus di dekat api. aku demam tinggi. aku bilang ke ibu.aku bertemu yesus, ibu memelukku, ibu bilang aku mengada-ada.aku demam.

Ilalang melahapku di dekat lingkaran yang aku ciptakan, sebuah pesta aku ciptakan sebelum senja. Aku duduk menunduk, melihat titik titik kaki tanah, mata pejam teringat siang di supermarket bersama ibu, Hari besar untuk membeli pembalut untuk aku. Hari itu aku menstruasi untuk pertama kalinya. Aku menangis entah itu apa. Aku demam, aku tergeletak entah di lingkaran yang aku ciptakan, kaki sebelah kiriku mencuat keluar lingkaran. Darah-darah segar menetes. aku demam.

Lingkaran-lingkaran kecil bertambah banyak, wajah-wajah merapal merujuk kaki kaki, menginjak titik-titik di tanah . aku ingin kembali ke lingkaran itu. Melihat ilalang saja. ya hanya itu saja. 


Blog EntryFeb 10, '10 11:54 PM
for everyone
membaur ke utara dengan ribu halang dalam genggam, kau mau kemana? 

aku mencium tubuhmu sebelum senja, aku tidak mempermasalahkan terang bulan, hingga kau bisa bercermin di kali. Memtuskan untuk kembali ke jalan-jalan, asap menguap memasuki jalur udara yang kau janjikan dalam genggaman di bulan ketiga. Sebentar lagi katamu.Lalu Pertanyaan yang menggelegar tentang konsep di pikiran, bualan yang memuakkan, ilmu ilmu imitasi berhamburan. Tak ada apa-apa. Abu yang lalu menguap di jalur udara pintu lorong rumahku.

Blog EntryFeb 7, '10 11:54 PM
for everyone
Dia membalikkan badan, menuju kearahku. rahayu, rahayu, rahayu.

Blog EntryFeb 7, '10 11:53 PM
for everyone
bertemu rusa di gereja

Blog EntryFeb 7, '10 11:52 PM
for everyone
Menjadi dua.

Senin ini aku tidak bekerja, aku mengambil libur. Saatnya untuk menikmati hari senin ini dengan caraku sendiri. Seharian dihabiskan di kamar. Membersihkan debu, merapikan buku-buku di samping tempat tidur, dan membuka box catatan harian. Aku membersihkan saja, sesekali melihat beberapa catatan yang membuat aku nyengir sekaligus getir. Ya, menemukan nota-nota belanja, tiket nonton gigs, scrapbook, surat-surat, kartu pos dan album perangko. Jadi teringat waktu dulu, aku suka sekali mengumpulkan perangko. Yang aku ingat adalah waktu SMP, aku sering barter perangko dengan guru bahasa inggrisku Mr herman. Bonusnya adalah “english day “. Jadi Mr herman akan mengajak aku berbincang-bincang dengan bahasa inggris waktu istirahat atau pulang sekolah. Ah, jadi kangen masa-masa itu.
Setelah itu, aku mengeluarkan koleksi semua bukuku dari lemari. Membersihkan debunya dan memulai mendata buku-buku. Sedih sekali, ternyata banyak bukuku yang hilang entah kemana dan aku lupa siapa yang minjam. Beberapa buku yang tidak terlihat di lemari buku adalah Trilogi fira basuki, jendela, pintu atap, akademos-bagus takwin, the tao of pooh, meditation mastery : a dialogue with krishnamurti, tubuh Sosial: Simbolisme, Diri, dan Masyarakat- Anthony Synnott, lumbini-kris budiman.
Semoga teman-teman yang sudah lama meminjam segera mengembalikannya. Aku juga sangat menyesal tidak bisa menjaga koleksiku ini dengan baik. Rasanya entah. Apalagi novel yang aku sukai “lumbini” juga tidak bisa dilacak siapa yang meminjam. Novel lumbini ini adalah hadiah langsung dari mas kris budiman. Mas kris, maap ya aku tidak bisa menjaga dengan baik. Buku ini sering kali dipinjam teman-teman, bergantian dari orang satu ke orang yang lain. Semoga suatu saat nanti, teman yang meminjam segera mengembalikan kepadaku. 
Setelah merapikan kamar dan koleksi buku, aku ke solo. Jam lima sore, aku ada kelas yoga di ganeps. Di perjalanan menuju ke solo, tiba-tiba turun hujan, melambatlah lajuku. Sampai di ganeps aku terlambat. Segeralah aku masuk dan beryoga. Menyadari tubuh, rileks begitu adanya. Hari ini aku sedang menstruasi, jadi aku tidak melakukan gerakan Sarvangasana yaitu gerakan berbaring lurus, kedua kaki perlahan-lahan diangkat lurus ke atas, menahan pinggul dengan kedua tangan. Tetapi instruktur yogaku menyarankan aku untuk berbaring rileks , kedua kaki disatukan sehingga membentuk segitiga. Rasanya sangat nyaman sekali. 
Yoga selesai, agenda selanjutnya adalah mendaftar workshop yoga Patanjali Dr somvir yang akan di laksanakan hari rabu, tanggal 3februari 2010. Tetapi ternyata pendaftaran workshop ini harus di ganeps pasar legi. Pukul 6 sore yang gerimis, perjalananku yang lambat, aku berhenti di tempat laundry dekat radio. Baru saja aku mau masuk, pintu sudah ditutup. Aku tidak jadi memandikan 3 bonekaku yang lucu, si gogo, gaga dan si matamerah. Yah, aku langsung menuju tujuanku semula yaitu ke ganeps pasar legi. Sampai di ganeps pasar legi, aku mendaftar workshop. Setelah beres semua urusan, saatnya melihat beberapa makanan tradisional di rak toko. Mataku tertuju di sebuah kotak motif batik berwarna orange. Aku ambil langsung, dan kemudian membayar di kasir untuk sekotak beras kencur. Kata ibuku, beras kencur ini sangat baik untuk melancarkan menstruasi dan menambah daya tahan tubuh. Jadi, untuk para perempuan, mari rajin minum jamu beras kencur. 
Di daerah pasar legi ini, lalu lintas cukup ramai. Aku pelan-pelan saja. Setelah perempatan pasar legi, memasuki daerah kampung kauman pasar legi. Aku membaca tulisan Aura di sebelah kanan gang kampung. Aku melaju saja tidak memperdulikan tulisan itu. Sampai di pertigaan SMU Muh 1 , entah kenapa tiba-tiba aku ingin kembali ke tulisan “Aura”. Jadi aku memutuskan untuk berbalik arah dan menghampiri tulisan aura itu. Setelah aku baca cermat, dibawah tulisan itu adalah laundry. Jadi teringat si gogo, si gaga dan si mata merah yang tadi aku mau mandikan. Aku masuk ke gang sempit, mencari rumah bertuliskan Aura. Masuk gang belok ke kiri terus lurus, aku berhenti di sebuah rumah “AURA. Entah ya, aku tidak kesulitan mencari rumah ini. Aku hanya mengikuti kata hati saja ketika mencari rumah aura ini, padahal rumah aura berada masuk kampung, melewati gang sempit. Sampai di depan rumah, Ibu muda yang cantik tersenyum kepadaku dan menyuruhku masuk. Oh ya didalam rumah aura itu ada 3 anak kecil kira-kira berumur 3-4 tahun, 2 anak perempuan dan 1 anak laki-laki. Mereka sedang bermain di kursi panjang berwarna coklat. Ibu muda dengan senyum hangat itu mengeluarkan timbangan, lalu aku mengeluarkan si gogo, si gaga dan si mata merah. Tahu tidak ? ketiga anak kecil itu langsung mendekatiku dan meminta bonekaku. Aku bilang saja ini namanya si gaga, si gogo dan si mata merah , mereka mau mandi di rumah aura. Ketiga anak yang mungil nan lucu itu tertawa senang. Aku membayar dan berpamitan. Tetapi si anak laki-laki tidak mengijinkan aku pulang, aku bilang saja si gogo, si gaga dan si mata merah akan dirumah aura selama 2 hari, jadi bisa di ajak main-main. Entah dadaku bungah, aku senang saja, si gogo , si gaga dan si mata merah mandi dirumah aura. Sabar ya sayang, besok rabu aku jemput. Selamat menyegarkan diri ya gogo, gaga, mata merah. 

Senyumku mengembang, aku meninggalkan rumah aura menuju toko buku toga mas di daerah kota barat. Aku mendapat no parkir 39. Lalu masuk ke toko buku, aku mendapat no penitipan barang 27. Aku tidak akan berlama-lama di buku ini, karena hanya ingin membeli buku yang aku incar 4 hari yang lalu . Menuju buku-buku di jala sutra, menemukan novel lumbini, satu-satunya novel yang masih di tempat buku toga mas. Aku membelinya, sebagai ganti novel lumbini dari mas kris yang entah keberadaanya. Lumbini ini pasti akan kusimpan dengan baik. Aku segera menuju rak yang aku incar beberapa hari yang lalu. Alice in wonderland karya lewis caroll segera aku genggam dengan senyuman. Aku menghadiahi diriku sendiri. Tidak sabar untuk membacanya, malam ini akan menjadi malam yang menakjubkan.
Perutku sangat ber oh lala, pondok jowi di pikiran. Menuju kesana, memilih meja di dekat kolam. Mendengar gemericik air dan ikan ikan bermain-main. Pondok jowi cukup ramai, jadi pesanan cukup lama datang. Aku duduk sendiri di meja no 15, kursi depanku adalah si tasku sihitamhitam. Sendiri, pikiran ke sana kesini, dari tadi aku memainkan no meja 15. Mengetuk –ngetuknya, menggesernya, membolak-balik seperti orang kebingungan. Entah kenapa, aku ingin saja menuliskan angka –angka yang aku peroleh hari ini yaitu no parkir 39, no penitipan 27, no meja 15. Aku mengamatinya, dan tersadar ternyata dari no 39 ke no 27 , jedanya adalah 12. dari no 27 ke 15, jedanya juga 12. Ada apa dengan 12 ? 
Aku hanya teringat perputaran jarum jam yang berahir pada angka 12 yang bisa dimaknai 12 identik dengan hal yang terahir sebagaimana akhir dari angka di jarum jam . Jika kita melihat jumlah bulan yang ada dalam kalender maka jumlahnya juga 12, artinya angka 12 dapat diartikan sesuatu yang terakhir sebagaimana akhir dari angka di kalender.
Akan ada apa ? akhir yang bagaimana ? Yang jelas “me time” hari ini puncaknya adalah menikmati satu porsi nasi bakar tempe yang nikmat sekali. Apakah ini akhir ? entah saja.Besok akan ada cerita lain lagi, selamat malam, salam :)

Solo, 1 februari 2010



Ini adalah waktu untuk diriku sendiri, menikmati pergi jalan entah tanpa tujuan, hari ini aku menghadiahi aku sendiri. Aku pergi dengan tubuhku sendiri. Ya, it’s all about me time.
Setelah bekerja, aku memutuskan untuk ke pondok jowi. Sungguh beruntung sore ini, pondok jowi tidak ramai, jadi aku bisa disana tenang dan lumayan lama. Aku duduk di tengah kolam ikan, aku senang disini , karena bisa mendengarkan gemericik air dan ikan ikan bermain main kesana kemari. Memilih meja dengan dua kursi, aku duduk dikursiku, sedang kursi depanku untuk tasku berwarna hitam-hitam. Asyik sekali melihat ikan-ikan itu bermain-main, mungkin mereka sedang bercengkrama dengan keluarga ikan dan memperbincangkan tentang kabar terbaru di dunia ikan-ikan. Aku keluarkan buku favoritku, The broken heart walking by Dina octaviani. Aku membaca “recycle” di dalam hati, berteriak keras, gemericik air deras. Hanya aku yang tahu. Langkah pelayan membuyarkan ritualku, dia menata beberapa makanan yang aku pesan, mendekatkan nomor meja ke dekat tubuhku. Aku tersenyum, aku mendapat no 6. Entah itu bisa baik atau tidak baik. Aku hanya teringat dadu maksimal berjumlah 6 dipikiranku. 


Menikmati makanan sendiri, tangan mengambil makanan, memasukkan ke mulut, mengunyah, dan menelannya ke perut. Ini adalah waktu yang sangat aku hargai. Jika aku makan bersama teman-teman, kebiasaan yang terjadi adalah makan sambil berbincang-bincang, hingga aku pun entah dengan kesadaran makanku sendiri. Jadi sore ini aku menghadiahi aku dengan kesadaran makan yang begitu resap. Setelah selesai makan nasi bakar beserta lalapan , aku pelan-pelan menikmati langit mendung, pesta ikan di kolam, kursi kursi kayu, pohon-pohon hijau disekitar dan sayup suara gamelan. Satu gelas teh hangat untuk aku. Rasanya sungguh merdu. Aku hanyut. Sebelum aku tak sadarkan diri, kakiku tegas berdiri, melangkah ke kasir dan meninggalkan tempat itu dengan tujuan entah. Aku melaju tanpa tujuan, pikiranku riuh penuh. Tiba-tiba aku berada di depan toko buku toga mas. Apakah alam bawah sadarku menginginkan ini ? aku tadi pergi tanpa instruksi apapun dan tiba tiba saja berhenti disini. 


Aku masuk, menitipkan tas hitam-hitam dan jacket ke petugas. Petugas dengan senyum hangat memberi nomor penitipan. Aku mendapat no 60. Aku menghela napas, berbicara dalam hati, ada apa dengan angka 6, 60 ? Entah, apakah itu baik atau buruk ? Mungkin bisa saja baik atau buruk. 


Aku berada di luapan buku buku, membaca beberapa buku buku dongeng, filsafat, hingga crafty. Tapi aku entah, Satu jam lebih entah aku berpindah pindah dari buku satu ke buku lain. Dan belum tertarik untuk membeli satu buku pun. Pikiranku lelah, aku memutuskan untuk meninggalkan toga mas saja. Ketika akan menuju pintu keluar, banyak orang mengantri di kasir. Sore ini toga mas lumayan ramai, aku memutuskan untuk mengambil arah yang tidak terlalu ramai. Ketika di dekat pintu, gambar lelaki tanpa kepala di buku menarik perhatianku. Ya , aku segera menghampiri dan berteriak di dalam hati. FIGHT CLUB, aku sudah lama ingin membaca buku chuck palahniuk . Maka aku putuskan untuk membeli novel fight club. Pulang dengan senyuman. Hadiah untuk aku hari ini sungguh indah. Selamat hari rabu, jika abu biarkanlah itu abu abu. This is your life, and it's ending one minute at a time. (Chuck Palahniuk, Fight Club, Chapter 3).

Solo, 27 januari 2010


Blog EntryJan 17, '10 2:42 AM
for everyone

Artwork By Kazuya Akimoto


Kemarin aku berencana membuat perangkat untuk mendekam, diantara gunjingan yang mulai tidak asyik di telinga. Lalu aku mulai tak ingin berputar, diantara geram.Sayup candumu memuakkan, dunia yang tak akrab di telinga muslihat. Aku membual, kamu membual, jadi sama-sama membual. Luangkan sejenak dengan genggaman yang meraup sejuta renyah. Aku kembali duduk di bawah pohon tak bernama di dekat rumah. Rasanya seperti melihat masa-masa berjalan lambat. Keengganan yang membuat tubuhku tak ingin singgah, kemanapun. Hanya pohon itu yang mampu menarikkan beberapa resap di dada. Aku mati, katanya.
Didalam keengganan yang bersahaja, aku tak tahu harus memanggilmu tidak, separuh ruangku meluap , wajah itu menjadi-jadi .Aku dibawah pohon tak bernama mulai menghitung satu per satu kematian yang hinggap dalam remah coklat di dekat rumah. Dan pemakaman yang telah memanggil beberasa resap dadaku memberat. Apakah itu yang disebut keakuan menyerang, atau hanya lalu lalang saja. Perempuan lingkaran mata hitam tebal menjabat tangan lipatan-lipatan. Aku perempuan itu. Aku entah, bereteriakpun entah. Pikiranku komedi putar, duniaku berputar. Aku Perempuan itu, Aku pali , aku datang lagi di pohon tak bernama.
Siang menggenang, laptop mati. notebok kubuka dnegan pensil lelap hitam membongkar jala-jala. Ketukan pertama mulai mengetuk untuk berkali kali ketuk.Seperti meluapkan dendang, di hati perempuan. Aku mengendap, menuliskan tentang burung-burung hinggap di bawah pohon tak bernama, Aku terlihat sendiri. Tetapi aku tidak sendiri. Pikiranku ramai. Aku ramai. Dan entah hanyalah nama yang bisa aku ciptakan kapan saja.Aku menggenggam rahasia bertahun-tahun lamanya, tentang aliran darah yang mengalir dari saluran pembuangan air rumah, rusak membusuk menjadi bau yang hinggap di kepala selama berkali-kali. ketukan mulai membanjir tubuhku.
Masakan berupa rupa disiapkan di dapur rupa , aku mulai membantu ibu menyisihkan bumbu-bumbu untuk masakan doa pemakaman wajah senja yang aku genggam bertahun-tahun lamanya, dalam pikiranku. Aku mulai bersalaman dengan daun daun kering, salam hangat hinggap di wajah wajah senja. Kakek merebak, nenek meluap hinggap cepat berkelebat dalam pikirku.
Jika bom-bom masih saja terdengar di resapan dada dunia, aku menghardikmu lelah. Tak berdaya , mungkin itu juga hanya bisa diciptakan dalam sekejap.Aku membutuhkan lelah, aku membutuhkan cegah. Semua merapat hebat di jalan-jalan yang entah, aku bisa melaluinya dengan beribu-ribu wajah yang menguntitku dari arah mana saja . wajah-wajah menyimpan rahasia.
Pada suatu malam, aku dibawan pohon tak bernama, aku megucap mantra. Keajaiban apa yang akan datang? aku mengulang. lalu seribu kalajengking mendatangi tubuhku .Rasanya ramai, gigitan membongkar sejarah genggaman yang aku simpan, wajah-wajah senja datang dalam lingkaran kecil-kecil datang, meluap tubuhku membiru. Darahku perlahan keluar dengan lamban, aku mencium tubuhku sendiri.Genangan darah masuk ke saluran saluran air pembuangan rumah, di bawah pohon tak bernama.

Solo, 17 januari 2010


januari-januariku terbangun dalam cuaca yang berbeda, dengan senyum hangat , melekat teringat wajah sendu ayah yang redam cuaca berbeda. Aku melangkah keluar menyusuri jalan dengan napas entah, jari-jariku meregang dengan tunjuk yang hangat. Lalu aku menerima segala perbedaan dalam januari yang berbeda setiap tahunnya. aku melangkah jalan, melepas topi lingkar dikepala. Aku tutupkan dada sesak, Lihat ayah : "dijalan-jalan yang sering kita lalui masih tersimpan jejak kaki mungil dan kaki kaki tegas, langkahmu". Aku berangka 7 tahun waktu itu, berjalan dengan penuh tanya tentang rumput-rumput yang membuat kaki geli, aku tersenyum sendiri.
Kartu-kartu yang tidak tersimpan rapi di lemari coklat ruang tamu, aku lekat hangat di atas jari-jari di januari pagi, aku teringat tentang kartu-kartu yang ayah kumpulkan, kartu joker, kartu pos dari sahabat, kartu ucapan bermacam-macam, kartu buatan sendiri yang kita gambari dengan pensil. Kartu-kartu berbau ayah, sendu aku merindu .
Kamus merah berwarna cerah darimu tergeletak di pinggir tidurku, aku buka berkali-kali, aku baca berkali-kali. Kamus merah cerah itu membuatku bermimpi untuk mengunjungi berbagai macam negara, situs situs , tempat-tempat asing yang aku yakini akan aku datangi dalam nyata duniaku. Ayah, kamus merah cerah itu membuat energiku bergairah menenun mimpi indah.
Aku melewati rumah lampau, teringat tentang senyumanmu membelikan satu bungkus rokok untuk kakak lelakiku yang ketahuan merokok di sudut ruang rumah kecil.Ayah diam dan meminta kakak untuk menghabiskan satu bungkus rokok dalam satu jam. Aku teringat wajah ceria ayah yang pertama kali mengajariku bermain dadu di suatu sore sepi bersama kedua saudara lelaki yang dini . Monopoli adalah mainan favorit yang membuat senyum kita mengembang. Aku duduk berjam-jam di sudut rumah kecil, aku melihatmu dari belakang. Ayah bersemedi, aku mendengar dag dig dug dan kecamuk pikiran ayah. Ayah, aku dibelakangmu.
Botol-botol mati di dapur mengingatkan ayah yang menyimpan anggur putih di dekat lemari makan, ketika usiaku 10 tahun aku bertanya tentang botol botol itu, ayah selalu bilang itu obat. Aku rekat,

sampai sekarang aku tidak mengelap sepeda miniku yang basah dari air hujan. ayah pernah bilang air itu akan mengering dengan sendirinya.Ayah aku rindu, hujan-hujanan di depan rumah. aku selalu ingat hujan serah di depan rumah itu.Untuk bapak , ayah, dad ..mari kita bermain main lagi. Senyumku mengembang, tangisanku kenang.



6-01-2010 : You're strong and smart and filled with love-A gift to me from up above, So here's a greeting from your biggest fan : Happy Birthday, Dad, 'cause "You da man!"